Beranda | Artikel
Bagaimana Rasulullah di Bulan Ramadan?
10 jam lalu

Bulan Ramadan adalah bulan yang spesial bagi seorang muslim. Pada bulan ini, terdapat banyak sekali keutamaan, mulai dari dipermudahnya beramal, dihapusnya dosa-dosa, hingga pahala yang beribu-ribu kali lipat.

Oleh karena itu, seorang muslim tentunya memiliki kebiasaan yang berbeda di bulan Ramadan demi memanfaatkan waktu yang mulia ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun demikian. Ketika di bulan Ramadan, beliau memiliki kebiasaan-kebiasaan khusus. Lalu bagaimanakah Rasulullah di bulan Ramadan?

Rasulullah di bulan Ramadan terbiasa melakukan hal-hal berikut:

Memperbanyak sedekah dan tadarus Al-Quran

Ramadan merupakan bulan Al-Quran dan juga bulan di mana kebaikan yang dilakukan pada bulan ini akan berlipat. Oleh karena itu, pada bulan Ramadan, Rasulullah -yang merupakan orang yang paling dermawan- berada di puncak kedermawanannya. Beliau juga senantiasa membaca dan mengulangi hafalan Al-Quran pada bulan Ramadan.

Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling dermawan. Beliau berada di puncak kedermawanannya pada bulan Ramadan saat Jibril menemuinya. Jibril biasa menemuinya setiap malam di bulan Ramadan untuk mengulang hafalan Al-Qur’an. Sungguh, Rasulullah hallallahu ‘alaihi wa sallam jauh lebih dermawan dalam berbuat kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari)

Menyegerakan berbuka puasa

Di antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah ketika puasa, beliau menyegerakan berbuka. Puasa tentunya merupakan ibadah yang agung untuk menunjukkan ketundukan dan kejujuran kita kepada Allah Azza wa Jalla, bukan ajang untuk menunjukkan kemampuan untuk menahan haus dan lapar. Rasulullah pun mengingatkan agar kita menyegerakan berbuka dalam sebuah hadis,

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” (HR. Muslim)

Baca juga: Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka Puasa

Mengerjakan makan sahur

Ketika berpuasa di bulan Ramadan, beliau mengerjakan sahur. Sahur bukan sekedar waktu makan agar kita bisa kuat berpuasa di bulan Ramadan. Di dalam makan sahur, ada keberkahan sehingga selayaknya kita meniru beliau untuk mengerjakan sahur sebagaimana sabda beliau,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

“Kerjakanlah sahur oleh kalian, sesungguhnya dalam makan sahur ada keberkahan.” (HR. Bukhari)

Rasulullah juga mengerjakan sahur di akhir waktu sebelum azan Subuh. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit,

تسحَّرْنا معَ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ ثمَّ قمنا إلى الصَّلاةِ قلتُ كم بينَهما قالَ قدرُ قراءةِ خمسينَ آيةً

“Kami mengerjakan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami pergi untuk mengerjakan salat.” Aku berkata, “Berapa lama antara keduanya?” Zaid menjawab, “Selama bacaan 50 ayat Al-Quran.” (HR Bukhari)

Murajaah Al-Quran

Ramadan merupakan bulan Al-Quran, bulan dimana Al-Quran diturunkan. Di bulan Ramadan, Rasulullah senantiasa murajaah hafalan Al-Quran bersama Jibril. Setiap bulan Ramadan, Jibril mendatangi Rasulullah untuk mengulang hafalan Al-Quran. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis,

جِبْرِيلَ كَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ يَعْرِضُ عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُرْآنَ

“Jibril senantiasa menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadan hingga akhir bulan. Di saat itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan Al-Qur’an di hadapannya.” (HR. Bukhari)

Mendirikan salat tarawih

Di antara kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadan adalah mengerjakan salat tarawih di malam hari. Hal tersebut karena keutamaan salat malam di bulan Ramadan,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang mendirikan salat di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya sebelumnya akan diampuni.” (HR. Muslim)

Akan tetapi, Rasulullah tidak mengerjakan tarawih sebagaimana yang kita kerjakan dengan berjamaah di masjid. Beliau biasanya salat sendiri di rumah dan terkadang salat berjamaah di masjid. Hal tersebut karena beliau khawatir salat tersebut akan diwajibkan untuk umatnya, sebagaimana dalam hadis dari ‘Aisyah,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي الْمَسْجِدِ، فَصَلَّى بِصَلاتِهِ نَاسٌ، ثُمَّ صَلَّى مِنَ الْقَابِلَةِ، فَكَثُرَ النَّاسُ، ثُمَّ اجْتَمَعُوا مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ أَوِ الرَّابِعَةِ، فَلَمْ يَخْرُجْ إِلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ: قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ، وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوجِ إِلَيْكُمْ إِلاَّ أَنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ، وَذَلِكَ فِي رَمَضَانَ

“Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ‘Suatu malam di bulan Ramadan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di masjid, lalu orang-orang ikut salat bermakmum di belakang beliau. Pada malam berikutnya, beliau salat lagi dan jamaah yang ikut semakin banyak.

Kemudian pada malam ketiga atau keempat, orang-orang sudah berkumpul memadati masjid, namun Rasulullah tidak keluar menemui mereka.

Keesokan paginya, beliau bersabda, ‘Aku tahu apa yang kalian lakukan tadi malam. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, selain kekhawatiranku bahwa salat ini akan diwajibkan atas kalian.`” (HR. Bukhari)

I’tikaf dan bersungguh-sungguh ibadah pada 10 hari terakhir Ramadan

Sepuluh hari terakhir Ramadan merupakan waktu yang memiliki keutamaan luar biasa. Oleh karena itu, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau melakukan i’tikaf di masjid untuk beribadah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ’anhuma, beliau berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Sesungguhnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengerjakan i’tikaf pada 10 hari terakhir Ramadan.” (HR. Muslim)

Pada 10 hari terakhir Ramadan, beliau beribadah dengan sangat sungguh-sungguh. Hal tersebut sebagaimana yang digambarkan dalam sebuah hadis,

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir (bulan Ramadan), Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah, serta membangunkan keluarganya.” (HR. Muslim)

Tetap mengumpuli istri di malam hari

Mengumpuli istri atau berhubungan suami istri di siang hari bulan Ramadan merupakan hal yang terlarang. Hal tersebut membatalkan puasa dan juga ada kafarah yang harus ditanggung oleh pelakunya. Akan tetapi di malam hari, hal tersebut tidak diharamkan. Bahkan Rasulullah pun tetap mengumpuli istrinya ketika bulan Ramadan di malam hari.

Hal tersebut bisa disimpulkan dari sebuah hadis yang menunjukkan Rasulullah berada dalam kondisi junub di waktu Subuh, sebagaimana dalam sebuah hadis,

كانَ رسولُ اللَهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يصبِحُ جنبًا من جِماعٍ غيرَ احتلامٍ في رمضانَ ثمَّ يصومُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan junub di waktu Subuh karena jima’ bukan karena mimpi di bulan Ramadan, lalu berpuasa.” (HR. Muslim)

Dari hadis di atas, bisa kita simpulkan bahwa Rasulullah tetap mengumpuli istrinya di bulan Ramadan. Akan tetapi, ketika 10 hari terakhir di bulan Ramadan, beliau tidak melakukannya. Sebagaimana dalam hadis sebelumnya, di 10 hari terakhir Ramadan, beliau mengencangkan kain sarungnya dan menghidupkan malam di 10 hari terakhir Ramadan dengan ibadah.

Penutup

Itulah beberapa hal yang biasa dilakukan Rasulullah di bulan Ramadan. Semoga dengan mengetahui kebiasaan beliau di bulan Ramadan, kita bisa mencontoh beliau agar kita bisa menjalankan bulan Ramadan dengan baik dan bisa memanfaatkan momen bulan Ramadan untuk menggapai ampunan dan pahala sebanyak-banyaknya.

Baca juga: Amalan Harian Ramadhan

***

Penulis: Firdian Ikhwansyah

Artikel Muslim.or.id


Artikel asli: https://muslim.or.id/112371-bagaimana-rasulullah-di-bulan-ramadan.html